Bibliotheca Universalis

ambisi Conrad Gessner mencatat semua buku yang pernah ada

Bibliotheca Universalis
I

Pernahkah kita merasa bersalah saat melihat tumpukan buku di sudut kamar yang belum juga disentuh? Atau mungkin, kita sering merasa cemas melihat ratusan tab browser yang terbuka di layar laptop? Kita hidup di era di mana informasi menyembur seperti selang pemadam kebakaran yang bocor. Kita sering menyalahkan internet atau algoritma media sosial atas kepanikan ini. Namun, sadarkah teman-teman bahwa perasaan kewalahan ini bukanlah penyakit modern? Jauh sebelum internet lahir, kepanikan yang persis sama pernah melanda umat manusia. Mari kita mundur sejenak ke abad ke-16 untuk melihat sebuah obsesi yang indah, namun berujung tragis.

II

Bayangkan kita berada di Eropa pada pertengahan tahun 1500-an. Mesin cetak temuan Johannes Gutenberg baru saja meledak di pasaran. Jika sebelumnya buku harus disalin dengan tangan selama berbulan-bulan, kini buku bisa diproduksi secara massal. Ini adalah momen Big Bang bagi dunia informasi. Tiba-tiba, ada terlalu banyak hal untuk dibaca. Di tengah euforia peradaban ini, ada satu orang yang justru merasa sangat ketakutan. Namanya Conrad Gessner. Ia adalah seorang dokter, ahli botani, dan polymath jenius asal Swiss. Di saat orang lain merayakan era baru mesin cetak, Gessner melihat sebuah bencana. Secara psikologis, ia mengalami apa yang hari ini kita sebut sebagai information fatigue atau kelelahan informasi. Gessner sangat panik, takut bahwa pengetahuan manusia yang berharga akan hilang tenggelam di bawah lautan buku-buku baru yang bermutu rendah.

III

Lalu, apa yang Gessner lakukan untuk mengatasi rasa cemasnya? Di sinilah letak kegilaannya bermula. Gessner memutuskan untuk mengambil alih kendali. Ia berambisi membuat sebuah daftar. Bukan sembarang daftar, melainkan katalog dari semua buku yang pernah ditulis oleh umat manusia di muka bumi. Ia menamai proyek raksasa ini Bibliotheca Universalis. Coba teman-teman renungkan sejenak. Gessner tidak punya Google, tidak ada Wikipedia, dan tidak ada sistem cloud. Bagaimana mungkin satu orang manusia melacak setiap gagasan yang pernah dicetak? Gessner mulai menulis surat ke seluruh penjuru Eropa. Ia memburu katalog perpustakaan, mewawancarai para cendekiawan, dan mencatat setiap judul secara manual. Dalam kacamata psikologi, apa yang dilakukan Gessner adalah sebuah coping mechanism. Ketika dunia terasa terlalu kacau, otak manusia mati-matian mencari ilusi kendali. Kita menata lemari saat sedang stres, bukan? Gessner mencoba menata isi dunia. Pertanyaannya, mungkinkah otak biologis manusia mengurung seluruh alam semesta informasi? Dan apa harga yang harus ia bayar untuk ambisi yang tidak masuk akal ini?

IV

Setelah bertahun-tahun bekerja seperti mesin, pada tahun 1545, mahakarya itu akhirnya terbit. Bibliotheca Universalis berhasil mendokumentasikan sekitar 10.000 buku dari 3.000 penulis berbeda. Gessner pada dasarnya telah menciptakan search engine pertama dalam sejarah, tiga abad sebelum komputer ditemukan. Ini adalah pencapaian intelektual yang brutal sekaligus mengagumkan. Namun, ada hukum sains alam yang tidak bisa dilawan oleh Gessner: entropi. Dalam ilmu termodinamika, entropi atau ketidakteraturan di alam semesta akan selalu meningkat. Semakin keras Gessner merangkum informasi, semakin cepat mesin cetak memproduksi buku baru. Ironisnya, demi menyelamatkan umat manusia dari tumpukan buku, Gessner justru menciptakan sebuah buku raksasa setebal ribuan halaman yang... pada akhirnya hanya menambah tumpukan buku baru di perpustakaan. Gessner wafat karena wabah pes pada usia 50 tahun. Ambisinya tidak pernah benar-benar selesai. Alam semesta informasi terbukti terlalu luas, terlalu liar, dan tidak akan pernah tunduk pada satu kehidupan manusia yang fana.

V

Kisah Conrad Gessner adalah cermin yang sangat relevan bagi kita hari ini. Kita sering terjebak dalam Fear Of Missing Out (FOMO) intelektual. Kita merasa harus membaca semua berita, menamatkan semua serial, dan mengetahui setiap tren agar merasa aman dan pintar. Padahal, sains otak (neurosains) mengajarkan bahwa memori kerja kita sangat terbatas. Keindahan pikiran manusia tidak terletak pada seberapa banyak data yang sanggup kita timbun, melainkan pada ketajaman kita dalam menyaringnya. Kita tidak perlu menjadi Bibliotheca Universalis yang berjalan. Mulai sekarang, ketika teman-teman melihat tumpukan buku yang belum terbaca atau linimasa media sosial yang tidak ada habisnya, tariklah napas panjang. Maafkan diri kita. Berdamailah dengan fakta ilmiah bahwa kita akan selalu melewatkan sesuatu. Di dunia yang kelebihan informasi, memilih apa yang tidak perlu kita ketahui adalah bentuk kecerdasan yang paling tinggi.